Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMPULAN KTI. Tampilkan semua postingan

Askep Komunitas : Keluarga dengan gastritis

|

BAB II
KONSEP DASAR

Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lembung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal. (Sylvia A. Price, 1995:376)
Gastritis adalah inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian besar kasus merupakan penyakit yang ringan dan sembuh sempurna (Sarwono, 2001:127)
Gastritis adalah gejala radang mukosa lambung (Syamsuhidayat, 1998:749)
Gastritis adalah inflamasi dari dinding lambung terutama mukosa lambung sebagai respon terjadinya kelainan bagian tersebut,berdasarkan pemeriksaan endoskopi ditemukan eriteme ,mukosa,sedangkan hasil foto memperlihatkan iregularitas mukosa. (Mansjoer.A,Triyanti K,Savitri R,2001:493)
Kesimpulan :
Gastritis adalah inflamasi dari dinding lambung terutama mukosa lambung yang mengakibatkan iritasi dan kerusakan mekanisme pertahanan lambung,dapat terjadi secara akut,difus atau lokal sebagai akibat peradangan.
 Selengkapnya silahkan klik link Download

KTI KEBIDANAN : Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Dalam Menghadapi Menopause

|

BAB I
PENDAHULUAN

Menopause merupakan suatu keadaan saat daur haid pada wanita berhenti. Hal ini disebabkan oleh lenyapnya folikel telur yang tersisa atau menjadi kurang sensitif terhadap perangsangan hormon otak FSH dan LH yang juga mengalami perubahan. Sel telur yang tersimpan didalam indung telur sudah terbentuk sejak masa didalam rahim. Pada saat pubertas sel telur berjumlah sekitar 300.000. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 4000 yang mampu bertahan hidup dan menjadi matang. Sebenarnya pada saat menopause masih tersisa beberapa sel telur, akan tetapi sensitifnya terhadap hormon sudah hilang. (Hanny Ronosulistyo, 2004)
Secara umum sebagian besar perempuan mulai memasuki masa menopause pada usia 49-52 tahun. Mengacu hasil penelitian bahwa usia harapan hidup perempuan Indonesia bertambah menjadi rata-rata 69 tahun. Maka sekitar 20-30 tahun atau sepertiga lama hidupnya, perempuan dalam keadaan menopause. (www. Google. Com).
Karena indung telur telah berhenti menghasilkan sel telur sehingga produksi hormon estrogen dan progesteron berkurang maka timbul tanda-tanda seperti perubahan datang bulan, merasa sangat panas atau berkeringat yang disebut hot flushes, vagina terasa kering, dan perubahan emosi yang mendadak. Tanda-tanda tersebut akan segera menghilang setelah tubuh terbiasa dengan keadaan yang kekurangan estrogen tersebut. (A. August Burns,  2000).
Dengan berhentinya aktivitas indung telur, maka sistem endokrin menjadi kacau- balau fungsinya, sehingga mengakibatkan kekacauan pula pada fingsi-fungsi organis dan fungsi psikis lainnya. Dengan tingkat pengetahuan yang berbeda maka berbeda pula penerimaan perubahan-perubahan ini. Sikap yang agak menonjol dan kadang-kadang memperlihatkan tingkah laku aneh-aneh yang menyebabkan periode ini disebut “usia berbahaya” atau gevaarlyd leeftyd. (Aisyah Dahlan, 1978)
   Pada tahun 1980, Utian melakukan pada 1000 wanita usia klimakterium di Inggris. Dalam penelitian sebanyak 16% wanita tersebut tanpa keluhan, 62% wanita merasakan adanya gejolak rasa panas tetapi umumnya tidak mengganggu kegiatan kehidupan sehari-hari. Ternyata hanya 10-15% dari wanita-wanita tersebut memerlukan pengobatan. (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan RI,1993:51)


SELENGKAPNYA SILAHKAN KLIK LINK DOWNLOAD

Askep Fibroadenoma

|

BAB I
KONSEP DASAR

  1. Pengertian
Fibroadenoma adalah suatu tumor jinak yang merupakan pertumbuhan yang meliputi kelenjar dan fibrosa.
(Raybun E. William, 2002 :219)
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang paling sering terjadi pada wanita. Tumor ini terdiri dari gabungan antara kelenjar dan fibrosa.
Dari beberapa pendapat dan referensi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian fibroadenoma mammae adalah suatu tumor jinak pada kelenjar dan fibrosa  pada payudara.
 Selengkapnya silahkan klik link Download

KTI KEBIDANAN : Adakah hubungan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi remaja putri tentang menstruasi dengan perilaku kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi di

|


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa remaja diwarnai oleh pertumbuhan, perubahan munculnya berbagai kesempatan dan seringkali menghadapi resiko-resiko kesehatan reproduksi. Kebutuhan akan peningkatan pelayanan kesehatan dan sosial terhadap remaja semakin menjadi perhatian di seluruh penjuru dunia. Dalam peningkatan pelayanan kesehatan dan sosial terhadap remaja Perlu adanya pembinaan kesehatan reproduksi remaja dimana bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, untuk  mengatasi masalah yang ada. Pengetahuan yang memadahi dan adanya motivasi untuk menjalani masa remaja secara sehat, diharapkan para remaja mampu memelihara kesehatan dirinya agar dapat memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi sehat (Widyastuti, 2009).
1
 
Dalam masyarakat kita sering menemukan berbagai pandangan, pendapat, persepsi, dan kepercayaan tentang suatu hal yang dipercaya oleh masyarakat karena dianggap benar, padahal belum tentu benar. Pandangan yang sering muncul dan berkembang dalam masyarakat karena beberapa hal, yaitu penyampaian informasi yang kurang tepat atau kurang lengkap, penyampaian informasi terlalu berlebihan sehingga menimbulkan sikap diskriminasi dikalangan remaja atau masyarakat terhadap berbagai masalah, salah satu diantaranya mengenai masalah menstruasi. Salah satu mitos yang sering terdengar diantaranya adalah bahwa remaja yang sedang menstruasi dianggap kotor dan sakit. Sebenarnya, menstrusi tidak membuat remaja perempuan menjadi kotor dan sakit. Namun memang benar jika sedang haid remaja putri harus menjaga kebersihan, seperti mengganti pembalut (Hafsah, 2004).
Menurut penelitian hasil dari partisipan dari 23 negara sepertiga responden mengatakan  mereka tidak diberitahu tentang haid sebelumnya, sehingga tidak siap dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sampai menjalani haid berikutnya karena tidak ada kesiapan dari awal haid/menarche termasuk untuk menjaga kebersihan Dari survei tersebut, para wanita itu mengatakan mereka yang tidak pernah tahu masalah haid, tidak mengerti cara menjaga kebersihan alat kelamin pada saat haid (Diaz, 2006).
Kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ-organ seksual atau reproduksi, merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan. Pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terkena infeksi. Oleh karena itu kebersihan daerah genetalia harus lebih dijaga karena kuman mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi dengan adanya keluhan yang dirasakan pada saat menstruasi adalah rasa gatal yang disebabkan oleh jamur kandida yang akan subur tumbuhnya pada saat haid.
Salah satu cara tindakan untuk menjaga kebersihan vagina saat menstruasi, yang perlu kita lakukan adalah mengganti pembalut sekitar empat sampai lima kali dalam sehari dan secara teratur membasuh bagian di antara vulva (bibir vagina) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang lembut (mild) setiap habis buang air kecil, buang air besar, dan ketika mandi. Yang penting adalah membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada disekitar vulva di luar vagina sedangkan dampak yang terjadi jika kebersihan vagina tidak terjaga akan memungkinkan terjadinya infeksi vagina dan vaginitis yaitu peradangan pada vagina yang terjadi karena perubahan keseimbangan normal bakteri yang hidup disana. Tanda atau gejala paling umum adalah munculnya cairan yang berwarna putih keruh keabuan dan berbusa serta menimbulkan bau kurang sedap, jika mengalami kejadian seperti ini, jangan segan-segan segera hubungi dokter untuk periksa (Putra, 2008).
Perawatan kesehatan dan kebersihan adalah hal yang banyak dibicarakan dalam masyarakat. Biasanya hal ini diajarkan oleh orangtua kita sejak kita masih kecil. Tetapi, karena orangtua sering kali tidak merasa nyaman membicarakan masalah seksual, biasanya masalah kesehatan dan kebersihan yang dibicarakan hanya menyangkut hal yang umum saja, sedangkan urusan kesehatan organ seksual jarang kita dapatkan dari mereka, Lebih lanjut dr. Inong menekankan agar para orang tua berusaha mendekati putra-putrinya sebagai teman, Orang tua harus pandai dan bijak dalam menanamkan nilai-nilai agama, pengetahuan dan menyampaikan informasi pendidikan seksual kepada anak-anaknya. Sebab penderita penyakit seksual sekarang ini bukan hanya orang dewasa saja, namun anak-anak pun sudah mulai menjadi korban. Kita harus mengajarkan cara-cara menjaga kebersihan daerah intim sejak dini kepada anak-anak kita terutama untuk yang wanita (Nazwar, 2007).
Selengkapnya silahkan klik link berikut download

KTI MATERNITAS: ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. J ( G2P2A0 ) POST PARTUM HARI KE-8 DENGAN INVERSIO UTERI DAN RUPTUR PERINEUM

|


BAB I
PENDAHULUAN


A.          Latar Belakang
Tingginya angka kematian ibu di Indonesia yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup tertinggi di ASEAN. Menempatkan upaya penurunan angka kematian ibu sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi sebagai penyebab kesakitan, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi dan partus lama. Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis.
Mengingat kira-kira 90% kematian ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetric yang sering tak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijakan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah mengupayakan agar semua persalinan harus dihadiri dan dipantau oleh petugas kesehatan terlatih, rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetric dan neonatal harus tersedia 24 jam dan obat-obatan esensial bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih.
Karena persalinan dan kelahiran merupakan kejadian psikologi yang normal maka kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa social yang ibu dan keluarga menantikannya selama 9 bulan. Ketika persalinan dimulai, peranan ibu adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi, disamping itu bersama keluarga memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin.
Selain itu tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatiakn aspek sayang ibu.
(Saefudin, 2000 : 100)
Komplikasi obstetrik yang sering tak dapat diperkirakan sebelumnya, seperti peristiwa inversion uteri dapat menyebabkan meninggalnya penderita.  Kejadian tidak banyak 1 : 5000 persalinan bahkan banyak yang melaporkan 1 dalam 20.000 persalinan walaupun jarang terjadi, komplikasi yang disebabkannya cukup serius bila tidak segera dikenal dan ditatalaksana dengan baik.  Timbulnya perdarahan dan syok ringan diduga disebabkan oleh atonia uteri. sedangkan akibat dari tindakan untuk mengatasi inversio uteri biasanya terjadi rupture pada perineum. 
( Sarwono Prawiroharjo, 1998 :  442  )
Melihat dari uraian diatas membuat penulis tertarik untuk membuat askep dengan judul  “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.  J (G2P2A0) POST PARTUM HARI KE-8 DENGAN  INVERSIO UTERI DAN RUPTUR PERINEUM DI RUANG MELATI RS. Dr. R.  SOETIJONO BLORA”.

Selengkapnya silahkan klik link berikuy.... DOWNLOAD

KTI KEPERAWATAN JIWA HALUSINASI PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN

|


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Dalam dunia masa kini yang terus-menerus berubah terdapat banyak sumber tekanan, frustasi dan konflik yang menimbulkan stress fisik dan mental pada kita, baik perorangan maupun kelompok.  Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga secara somato-psiko-sosial.  (Maramis, 2005, p. 118).
Gaya hidup dan persaingan hidup menjadi semakin tinggi, hal ini disebabkan karena tuntutan akan kebutuhan ekonomi, sandang, pangan, dan papan, pemenuhan kebutuhan kasih sayang, rasa aman dan aktualisasi diri dapat berakibat tingginya tingkat stress dikalangan masyarakat.  Jika individu kurang atau tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping dan gagal dalam beradaptasi maka individu akan mengalami berbagai penyakit baik fisik maupun mental (Rasmun 2004, p. 1).
Prevalensi gangguan kesehatan jiwa di Indonesia menurut hasil study Bahar dkk (1995) adalah 18,5 %, yang berarti dari 1000 penduduk terdapat sedikitnya 185 penduduk dengan gangguan kesehatan jiwa atau tiap rumah tangga terdapat seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.  Jika hasil studi dapat dijadikan dasar maka tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi berkisar antara 20-60 per 1000 penduduk, seperti yang tercantum pada sistem kesehatan nasional.  (Hamid, 2000)
Gangguan jiwa yang banyak ditemukan adalah gangguan jiwa berat atau biasa disebut skizofrenia.  Perkiraan angka ini disampaikan Dr LS Chandra ,SpKJ dari Sanatarium Dharmawan Jakarta Selatan.  Tiga per empat dari jumlah pasien  skizofrenia umumnya dimulai diusia 16 sampai 25 tahun pada laki-laki.  Pada kaum perempuan,  skizofrenia biasanya mulai diidap pada usia 25 hingga 30 tahun.  Penyakit yang satu ini cenderung menyebar di antara anggota keluarga sedarah.
Salah satu jenis skizofrenia adalah skizofrenia katatonik yang memiliki gambaran klinis, seperti stupor, gaduh gelisah, menampilkan posisi tubuh tertentu dan mempertahankannya negativisme, ragiditas, serta “Command automatism” (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah dan pengulangan kata serta kalimat). Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik atau alkohol dan obat-obatan serta dapat terjadi pada gangguan afektif (Stuart, 2006). Perubahan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan, sensasi somatik dengan impuls dan stimulus eksternal.
Salah satu gejala umum skizofrenia adalah halusinasi, halusinasi ada beberapa macam dan salah satunya adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan.  Klien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan seringkali mendengar suara-suara dan melihat suatu objek yang langsung ditunjukkan pada klien dan biasanya isi suara dan objek yang dilihat tersebut tidak menyenangkan, bersifat menghina dan menuduh.  Hal ini menyebabkan klien tidak tenang, gelisah, merasa tidak aman, dan akhirnya menimbulkan kekerasan yang berkepanjangan.  (Rasmun, 2001)
Gangguan persepsi yang paling sering terjadi adalah halusinasi. Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersiapkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.  Suatu penerapan panca indera tanpa ada rangsangan dari luar.  Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indera tanpa stimulus eksteren :   persepsi palsu.  (Maramis, 2005)
Dengan melihat begitu banyaknya orang yang terkena gangguan jiwa, penulis tertarik untuk memberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Ganguan Persepsi Sensori Halusinasi Pedengaran dan Penglihatan di RSJP Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
Selengkapnya silahkan klik link download di bawah ini:

KTI KOMUNITAS : KELUARGA DENGAN TBC

|

BAB I
PENDAHULUAN

A.            Latar Belakang
Tuberculosis paru adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Basil mycrobacterium tuberculosis yang secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. Infeksi ini dapat mengenai berbagai organ didalam tubuh yang paling sering terkena adalah jaringan paru.
Sebelum masa perang dunia II tuberculosis paru merupakan penyakit yang sangat ditakuti, karena dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dan kalaupun sembuh akan memberikan kecacatan. Dengan ditemukannya obat-oat anti tubercolosis (OAT) terutama yang bersifat bakterisid, pengobatan terhadap penyakit ini mengalami kemuajuan pesat.
Walaupun penyakit ini sudah dapat disembuhkan dengan OAT, tetapi dinegara yang sedang berkembang penyakit ini masih tetap merupakan masalah kesehatan yang utama.
Di Indonesia penyakit tuberculosis paru menduduki urutan keempan untuk angka kesakitan, setelah influensa, infeksi saluran nafas akut dan broncitis, serta merupakkan penyebab kematian nomer empat setelah infeksi saluran nafas bawah, diare dan jantung koroner. Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : rendahnya penghasilan, kepadatan Penduduk, tingkat pendidikan yang rendah, serta pengetahuan kesehatan yang kurang dari masyarakat. (Faisal, 2006).
Dari hasil surve ke puskesmas Banjarejo terdapat yang dilakukan oleh mahasiswa PKL, pada tanggal 22 Juni 2010 di desa Sumberagung .................. Sedangkan di dukuh Temboro didapatkan 6 penderita tuberculosis paru dan sekarang menjalani pengobatan, pengobatan dilakukan secara teratur. ada satu penderita suspek tetapi tidak mau periksa karena keterbatasan biaya. Dari data tersebut penulis terdorong untuk  memberikan Asuhan Keperawatan pada Keluarga Tn.M dengan masalah utama TB paru.
Selengkapnya silahkan klik link di bawah ini :

KTI KMB: ULKUS DM

|

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Diabetes melitus merupakan penyakit menurun yang ditandai dengan glukosa dalam darah melebihi normal, yang disebabkan gangguan proses maupun sekresi insulin. Pada diabetes kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Keadaan ini menimbulkan hiperglikemia yang dapat mengakibatkan komplikasi metabolik yang akut seperti diabetes ketoasidosis. Hiperglikemia jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang kronis dan komplikasi neuropati, manifestasi klinis dari diabetes melitus antara lain : 3 poli (polidipsia, poliuria, polifogia) kesemutan, rasa gatal, kelemahan tubuh, luka yang tidak sembuh-sembuh, infeksi seluran kemih, kenaikan kadar glukosa dalam darah 100-200 mg atau lebih. (www.wartablog.co.id)
Ulkus Diabetes melitus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir yang proses timbulnya dimulai dari cidera jaringan lunak kaki, pembentukan fisura antara jari-jari kaki/didaerah kulit yang kering/pembentukan sebuah kalus. (Smeltzer and Bare, 2002 : 1276)
Indonesia menempati urutan ke 4 penderita Diabetes Melitus di dunia survey WHO tahun 2002 jumlah penderita diabetes meliutus di Indonesia 17 juta orang (86% dari jumlah penduduk). Indonesia menempati urutan terbesar ke 4 setelah India, Cina dan Amerika Serikat. (www.wartablog.co.id)
Dari studi epidemiologi diabetes melitus di Indonesia, angka kejadian kasus ini cenderung meningkat, khususnya didaerah perkotaan. Di Jakarta, penelitian yang dilakukan dr. Sarwo Waspadji (1982) menyebutkan kejadian diabetes melitus 1,7% (di Kecamatan kota Jakarta Utara). Penelitian di desa abadi jaya Depok pada tahun 2001 oleh Enyunir, dkk menunjukkan kejadian Diabetes Melitus 13,6%, peningkatan kasus Diabetes Melitus di Pengaruhi oleh beberapa faktor seperti perubahan pola gaya hidup, perubahan struktur asia karena angka harapan hidup meningkat. Selain itu beberapa faktor resiko turut berperan dalam kejadian diabetes melitus, yaitu usia lebih dari 45 tahun berat badan lebih (obesitas), hipertensi, gangguan metabolisme lemak, riwayat keturunan diabetes melitus dan melahirkan anak dengan berat badan lebih dari 4 kg. (www.wartablog.co.id)
Dengan melihat bahwa Indonesia menempati urutan ke 4 penderita diabetes melitus di dunia dengan angka 17 juta orang (86% dari jumlah penduduk). Maka penanganan tentang diabetes melitus tidak hanya sekedar berkaitan dengan pengobatan dan pengendalian kadar gula darah. Melainkan erat hubungannya dengan perawatan luka dan masalah yang lebih kompleks lainnya (pencegahan komplikasi) untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan ahli dnegan bidangnya khususnya dalam hal perawatan pada pasien dengan diabetes melitus. (www.wartablog.co.id)
Telah diketahui oleh semua orang bahwa penyakit diabetes melitus dapat terjadi pada siapapun tanpa disadari dengan adanya tanda-tanda sering merasa haus, rasa ingin BAK terus menerus, kaki terasa kram atau kesemutan, dan bila terdapat luka biasanya lama untuk sembuh, pada tahun 2007 Indonesia menduduki urutan ke 5 setelah negara Cina, hampir 56% dari jumlah penduduk Indonesia. Untuk di Jawa Tengah sendiri penyakit diabetes melitus menyerang + 2600 warga. Dengan pengobatan yang rutin, pemantauan gula patah, pola hidup sehat, dan diet yang teratur maka penyakit ini dapat tertangani. (www.kompas.co.id)
Data yang penulis dapatkan saat melakukan ujian klinik di rumah sakit rembang pada tanggal 30 juni 2010 di ruang bougenville didapat 4 orang pasien yang menderita ulkus DM.
Melihat latar belakang yang terjadi pada penyakit diabetes melitus yang semakin banyak ditemukan di masyarakat maka penulis ingin menyajikan dalam bentuk karya tulis dengan judul Asuhan Keperawatan pada Ny. J dengan ulkus Diabetes melitus di Ruang Bougenville RSU dr R. Soetrasno Rembang.
Selengkapnya silahkan klik link di bawah ini :

KTI KMB: HIPERTENSI

|

BAB I
PENDAHULUAN
A.            Latar Belakang
   Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Saat ini hipertensi diderita oleh lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia. Sekitar 10-30% penduduk dewasa dihampir semua negara mengalami hipertensi. Armilawaty yang telah mengutip dari Pujdi mengungkapakan, 90-95% hipertensi tidak diketahui penyebabnya. Sementara 5-10% disebabkan penyakit lain, seperti gangguan ginjal, gangguan pembuluh darah, dan penyakit pembuluh darah bawaan. Bila dilihat dari golongan usia, prevalensi hipertensi ternyata makin banyak seiring dengan bertambahnya usia (Armilawaty, 2007).
   Penyakit hipertensi telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyrakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus ditahun 2000, diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus ditahun 2025. Prediksi didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan penambahan penduduk saat ini (Clerence, 2007).
   Modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 5% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor resiko, dan 90% merupakan hipertensi esensial. Di Irian Jaya angka penderita hipertensi sebanyak 0,6%, Talang Sumatra Barat 17,8%, Jawa Tengah 1,8% (Armilawaty 2007).
Di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang ditemukan data penderita penyakit hipertensi yang menjalani rawat inap pada tahun 2005 sebanyak 288 orang, pada tahun 2007 sebanyak 236 orang, pada tahun 2007 sebanyak 263 orang, pada tahun 2008 sebanyak 288 oramg. Sedangkan  pada tahun 2009 pada bulan januari sampai dengan april sebanyak 91 orang penderita hipertensi ( Rekam Medis RSUD dr. R. Soetrasno Rembang).
Dengan demikian angka mordibitas pasien hipertensi terus meningkat dari tahun menahun. Karena begitu besarnya kasus hipertensi,dalam menanganinya tidak hanya intervensi medis yang perlu dilakukan, akan tetapi intervensi keperawatan dengan penerapan asuhan keperawatan pada hipertensi yang bertujuan menurukan tekanan darah dan pemeliharaan tekanan pada tingkat normal sehingga dapat menurunkan angka modibitas. Hal ini termasuk program pemeliharaan kesehatan pada hipertensi, pembatasan diet yang ketat disamping intevensi farmakologi dengan diuretik atau obat anti hipertensi.
Sebagai mahasiswa Poltekkes Depkes Semarang Prodi Keperawatan Blora, yang memperoleh pendidikan teori di bangku kuliah, melihat hal-hal tersebut di atas dituntut adanya kemampuan untuk memberikan karya dan pengetahuannya dalam bidang perawatan. Dalam hal ini penulis menyajikan dalam bentuk karya tulis dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Ny.S Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler : Hipertensi di Ruang Melati RSU dr. R. Soetrasno Rembang.
Selengkapnya silahkan klik link di bawah ini :

KTI KEPERWATAN JIWA : PERILAKU KEKERASAN

|

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Di dalam kehidupan modern yang semakin kompleks, maka akan terjadi peningkatan stress apabila seseorang kurang mengadaptasi keinginan-keinginan dengan kenyataan-kenyataan yang dimiliki, baik kenyataan yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Gaya hidup dan persaingan hidup menjadi semakin tinggi, hal ini disebabkan karena tuntutan akan kebutuhan ekonomi, sandang, pangan dan papan, pemenuhan kebutuhan kasih sayang, rasa aman, dan aktualisasi diri dapat berakibat tingginya tingkat stress di kalangan masyarakat. Jika individu kurang atau tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping dan gagal dalam beradaptasi maka individu akan mengalami berbagai penyakit baik fisik maupun mental (Rasmun, 2004, p.1).
Studi Proporsi Gangguan Jiwa yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan, 16 kota selama kurun waktu 1996-2000 menggunakan instrumen diagnostik Composite International Diagnostic Interview dari WHO terhadap 1600 anggota rumah tangga dewasa dengan menggunakan 100 sub contoh Survei Sosial Ekonomi Nasional dari setiap Badan Pusat Statistik kotamadya mendapat proporsi gangguan yang tergolong adiksi mental atau kecanduan 44%, defisit kapasitas mental atau retardasi mental 34%, disfungsi mental misalnya kecemasan, depresi dan sebagainya 16,2%, sedang disintegrasi mental atau psikosis 5,8% (Siswono, 2001).
Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari. Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi komunikan sel-sel saraf di otak, dapat berupa kekurangan maupun kelebihan neutrotransmiter atau substansi tertentu. Gangguan jiwa meskipun tidak menyebabkan kematian secara langsung tetapi menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga (Febrida, 2007).
Salah satu bentuk gangguan jiwa adalah perilaku amuk. Amuk merupakan respon kemarahan yang paling maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilangnya kontrol, dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Keliat, 2005, p. 24)
Tingkah laku amuk dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain model teori importation yang mencerminkan kedudukan klien dalam membawa atau mengadopsi nilai-nilai tertentu. Model teori yang kedua yaitu model situasionism, amuk adalah respon terhadap keunikan, kekuatan dan lingkungan rumah sakit yang terbatas yang membuat klien merasa tidak berharga dan tidak diperlakukan secara manusiawi. Model selanjutnya yaitu model interaksi, model ini menguraikan bagaimana proses interaksi yang terjadi antara klien dan perawat dapat memicu atau menyebabkan terjadinya tingkah laku amuk. Amuk merupakan respon marah terhadap adanya stress, cemas, harga diri rendha, rasa bersalah, putus asa dan ketidakberdayaan. Respon ini dapat diekspresikan secara internal maupun eksternal. Secara internal dapat berperilaku yang tidak asertif dan merusak diri, sedangkan secara eksternal dapat berupa perilaku destruktif agresif. Adapun respon marah diungkapkan melalui 3 cara yaitu secara verbal, menekan dan menantang. (Beck, Rawlins, William, 1986 : 477 dikutip oleh Keliat, 2005)
Direktur Jendral bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, Prof. Dr. dr. Azrul Azwar, MHP mengakui pencapaian penanganan masalah kesehatan jiwa masyarakat belum memuaskan. Hal itu karena keterbatasan anggaran pemerintah, minimnya sarana pelayanan serta sumber daya manusia, baik psikiater maupun perawat kesehatan jiwa. Selain itu pemahaman masyarakat mengenai masalah kesehatan jiwa masih rendah. Masih ada stigma terhadap gangguan jiwa, serta adanya rasa malu untuk mencari pertolongan. Masyarakat mengidentifikasi gangguan jiwa hanya dengan psikotik atau gila. Banyak yang belum tahu bahwa kecemasan dan depresi termasuk gangguan mental dan perlu perawatan (Siswono : 2001).
Berdasarkan uraian di atas dengan melihat begitu kompleksnya penyakit gangguan jiwa dan banyaknya orang yang terkena gangguan jiwa, penulis tertarik untuk membahas studi kasus tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJP Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
Selengkapnya silahkan download di link berikut ini

 

©2009 HUDENIZIA BLOG | Template Blue by TNB